(Update 28 November 2015: Kami melakukan perubahan struktur kalimat di bagian rencana pembuatan aplikasi mobile).
Pernahkah kamu membeli sebuah kemeja namun langsung kecewa karena
ternyata ukurannya tidak pas di badan? Tenang saja, kamu tidak
sendirian. Ukuran kemeja yang hanya berkisar antara S hingga XXL tentu
tidak akan bisa benar-benar pas untuk semua orang.
Itulah mengapa masih ada beberapa orang yang lebih suka menjahit
kemeja sendiri daripada membeli yang dijual bebas di pasaran. Marvin
Wong, seorang pengusaha distributor elektronik di Jakarta, adalah salah
satu di antaranya.
Adik Marvin, Marline Wiguna, adalah seorang perancang busana yang punya
clothing line sendiri. Kebetulan, Marline juga sudah sering menerima pesanan kemeja batik dengan model
custom, walau pasarnya hanya berkisar pada orang yang ia kenal saja. Marvin pun memesan sebuah kemeja kepada adiknya.
Marvin merasa puas akan hasilnya. Dari situ, ia melihat sebuah peluang bisnis. Bersama dengan sang adik, ia mulai membuat
e-commerce yang melayani pemesanan kemeja lelaki secara
custom dengan nama
Bespoka.
Nama Bespoka sendiri berasal dari istilah
bespoke tailor yang merupakan istilah populer untuk model penjahitan dengan sistem
custom. Untuk saat ini, Bespoka baru bisa menerima pesanan untuk kemeja kerja dan kemeja batik.
Hanya satu ukuran kemeja

Uniknya, kamu tidak akan menemukan pilihan ukuran saat ingin membeli
kemeja di Bespoka. Kamu hanya perlu memilih warna dan motif kain, bentuk
fit kemeja (
slim fit atau
tailored fit), bentuk kerah, bentuk lengan, bentuk kantong, dan pilihan untuk menambahkan inisial nama kamu pada kerah kemeja.
Apabila kamu pengguna baru, setelah memilih kustomisasi kemeja dan
menyelesaikan pembayaran, Bespoka akan mengirimkan seorang tukang ukur
ke rumah, atau ke tempat lain yang kamu inginkan, untuk mengukur ukuran
badan kamu.
Di sinilah perbedaan Bespoka dengan
e-commerce lain. Semua
kemeja yang mereka buat mempunyai ukuran yang spesial untuk
masing-masing pemesan. Sang tukang ukur akan melakukan 20 pengukuran.
Mulai dari lingkar lengan hingga panjang kemeja yang diinginkan. Ini
demi memastikan ukurannya kemeja yang dibuat benar-benar pas.

Duo founder Bespoka, Marvin Wong (kiri) dan Marline Wiguna (kanan)
Setelah sesi pengukuran, Bespoka akan menjahitkan pesanan tersebut
dalam waktu kurang dari dua minggu dan mengirimkan hasilnya kepada kamu.
Untuk pemesanan kedua, ketiga, dan seterusnya, Bespoka akan membuatnya
sesuai dengan ukuran tubuh kamu ketika pertama kali memesan.
Untuk saat ini, Bespoka baru melayani pemesanan di daerah Jakarta dan
Tangerang, karena baru daerah itu yang bisa mereka jangkau untuk
mengirim tukang ukur. Namun Bespoka sebenarnya bisa menerima pesanan
dari seluruh Indonesia, asalkan sang pengguna bisa meluangkan waktu
untuk melakukan pengukuran di sekitar Jakarta dan Tangerang.
Kualitas berbanding lurus dengan harga

Contoh desain batik di Bespoka
Demi menjamin hasil kemeja yang dibuat, Bespoka memastikan kalau
proses menjahit dan bahan yang mereka gunakan mempunyai kualitas yang
tinggi. Itulah mengapa harga kemeja di Bespoka sedikit lebih mahal,
dengan kisaran harga Rp500 ribu hingga Rp2,8 juta.
Dalam waktu dekat, Bespoka akan menyediakan produk-produk baru
seperti dasi (baik dasi biasa maupun dasi kupu-kupu), dan celana
panjang. Bahkan mereka juga akan menyediakan produk kemeja kerja dan
kemeja batik siap pakai.
Adapun terkait aplikasi
mobile, Marvin mengatakan kalau Bespoka
tidak belum akan merilisnya dalam waktu dekat.
Sehingga
Meski begitu, ke depannya tidak menutup kemungkinan Bespoka akan
membuat sebuah aplikasi yang semakin memudahkan proses pemesanan.
Marvin sendiri cukup positif dengan kondisi bisnis
e-commerce fashion
yang sebenarnya sudah cukup ramai. Menurutnya, pesaing terbesar dari
Bespoka justru para tokoh terkenal yang menjual kemeja batik, karena
mereka bisa memasarkan produk mereka secara luas.

“Namun mereka tidak punya situs web yang memfasilitasi pembuatan kemeja
custom
seperti kami, dan layanan tukang ukur kami yang akan langsung datang ke
rumah juga merupakan satu-satunya di Indonesia,” ujar Marvin.
Untuk mempromosikan Bespoka, Marvin lebih memilih untuk hadir di
bazar-bazar yang sering diadakan di pusat keramaian. Di bazar-bazar
tersebut, pengunjung yang berminat bisa langsung memesan kemeja dan
ukuran tubuh mereka akan langsung diukur saat itu juga.
Sejauh ini, ide bisnis kakak beradik tersebut terbukti cukup sukses.
Baru mulai beroperasi sejak bulan Agustus 2015, hingga saat ini
pemesanan yang masuk ke Bespoka terus bertambah.

“Saat ini kami telah mempunyai 10 orang staf produksi, namun dalam
satu sampai dua bulan ke depan akan kami lipat gandakan demi memenuhi
permintaan yang terus naik,” ujar Marvin.
Model bisnis Bespoka yang seperti memadukan
e-commerce
dengan layanan penjahit pribadi mungkin masih asing bagi masyarakat
Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bespoka, apalagi
produk mereka mempunyai harga yang cukup mahal.
Jika produk mereka berhasil memuaskan para pengguna, tidak mustahil kalau Bespoka akan menjadi salah satu
startup yang harus diperhitungkan, di antara sekian banyak
startup yang bergerak di bidang
e-commerce fashion.
(Diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah)